Cerpen Diam Bukan Lari dari Permasalahan

cerpen-diam-bukan-lari-dari-permasalahan

Beberapa orang mungkin menganggap berbicara dan mengungkapkan adalah suatu hal yang melegakan hati. Meluapkan semua isi hati dalam menghadapi berbagai permasalahan. Namun lain halnya  dengan aku. Mungkin memang aku dilahirkan untuk melalui langkah demi langkah perjalanan hidup secara tidak mudah. Bagiku memendam adalah hal yang lebih baik daripada mengungkapkan. Utamanya dalam masalah tambatan hati.

Aku remaja 19 tahun, namaku Reina. Sama pada remaja pada umumnya, mungkin percintaan adalah suatu hal yang menjadi hal paling memiliki ruang terbesar dalam diri.

Ya, saat ini aku sedang dekat dengan seseorang dia bernama Dhoni. Baru 4 pekan aku mengenalnya aku bisa dibuat nyaman dengan sikapnya yang selalu peduli dan perhatian terhadapku. 5 pekan berlalu, dia mengungkapkan perasaan denganku.

Bingung adalah satu kata yang terpikir langsung dikepalaku. Karena apa, saat itu juga ada yang mendekati aku. Dia bernama Raihan. Raihan sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri walau sebenarnya kami kenal karena sama-sama sedang diikutkan lomba. Akan tetapi, dia ingin memiliki hubungan lebih dari sebatas teman denganku.

Dua orang ini memang membuatku bingung. Mereka memiliki keistimewaan masing-masing. Kebingungan itu hanya kupendam sendirian. Aku tahu bahwa setiap masalah akan ada penyelesaiannya.

Namun, diantara mereka berdua saat ini hatiku berkata lain. Aku telah memendam rasa kepada seseorang selama 2 tahun lamanya. Ya, lama memang, tapi itulah faktanya. Aan namanya. Ku pemdam rasaku sejak aku kelas 3 SMA. Aku menyukainya, tapi entah dengannya menyukaiku atau tidak. Aku tidak berhak untuk memaksanya. Yang kutahu, aku menyukainya ikhlas hingga bertahan sampai 2 tahun lamanya.

Enatah apa yang membuatku bisa bertahan selama itu, padahal kami pun tidak pernah saling berdekatan, berkomunikasi walau hanya sebatas menyampaikan pesan melalui ponsel kami. Tidak pernah itu semua terjadi.

Kembali lagi, kini ada Dhoni di hari-hari ku. Dia yang setiap hari menemani aku melewati hari demi hari. Kabar demi kabar pun saling kami tukarkan. Hingga entah mengapa pada akhirnya aku bisa menambatkan hatiku kepadanya. Dia bisa membuatku lupa dengan apa yang sudah aku pendam 2 tahun lamanya.

Akhirnya aku memilih untuk bersama Dhoni untuk saat ini. Namun, sayang, kami harus menjalani hubungan kami yang terbatas dengan jarak. 531 km kami dipisahkan, kami hanya bisa saling bertukar kabar melalui seuntai pesan Whatsapp dan bertelpon satu sama lain.

Berat memang, tapi lagi-lagi aku hanya bisa diam. Sebesar apapun masalah, aku berharap kita akan tetap satu, seberat apapun beban aku berharap kita bisa saling memikul. Besar harapan untuk kita, bisa bersama untuk kini dan nanti. Sekian.

Cerpen Berharganya Sekian Detik Bersamamu

Cerpen Hanya Waktu yang Tau

You May Also Like

About the Author: juonjr

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: