Cerpen Berharganya Sekian Detik Bersamamu

Berharganya Sekian Detik Bersamamu. Pagi ini ku duduk tersipu diatas sofa, ditemani secangkir gelas air panas. Dari semalam ku tertidur akan tetapi seakan otak tak bisa diajak untuk sejenak beristirahat. Hingga di pagi harinya ku harus menerima segala hal yang membuat pernafasan dan suara menjadi sedikit terkendala.

Mentari seakan menyapa “Bagaimana hari ini? Siapkah menjalani sehari lagi?” Ahhh… Entahlah kenapa hari ini serasa aku hanya ingin tenang, meresapi setiap hembusan napas, menikmati detik kian detik waktu berjalan. Tanpa ada ganjalan disetiap hal yang aku rasakan.

Dikehangatan inar mentari yang menyapa, ku buka telpon genggam ku. Tak berani ku buka beberapa pesan yang kau balaskan untuk pesanku kemarin yang ku kirimkan. Entah kenapa, sedikit aku takut untuk membuka chattingmu di aplikasi Whatsapp-ku. Akhirnya, dengan harap-harap cemas kuberanikan untuk membuka pesanmu.

Aku sedikit lega dengan pesan yang kau kirimkan kemarin malam. Satu kata yang membuatku menambahkan rasa takut kehilangan kamu setiap waktunya. Hingga akhirnya ku sapa pagimu dengan kata “Pagi..”, mendapat jawaban darimu sudah membuatku lega saat itu.

Hingga siang hari tiba, hari ini ku terpaksa meninggalkanmu karena aku harus sejenak meletakkan kepalaku yang terasa berat sejak hari kemarin.

Sepersekian detik aku menghembuskan napas, terkadang selalu terselip do’a untukmu dimanapun kamu dan kapanpun itu walau tiada waktu kita untuk bertemu, semoga Dia selalu senantiasa menjaga kamu dan hatimu.

Rindu yang kian waktu semakin menjadikan sesak di hati ini kian menyiksaku. Betapa sulit kita untuk saling meluangkan waktu, hanya untuk saling bertukar rasa rindu. Untuk aku yang belum terlalu sibuk saja, sangat sulit untuk meluangkan waktu untukmu. “Maafkan aku…” kalimat yang selalu terngiang di otak kecilku ini. Membayangiku dengan rasa bersalah yang menyiksa bathinku sendiri.

Aku ingin menyampaikan segala rindu ini kepadamu. Kamu yang istimewa, kamu yang mahir menjaga rasa, kamu yang dengan sabarnya menghadapi segala yang berjalan.

Hingga kini senja telah datang lagi-lagi selalu ku menantikan seuntai pesan yang mungkin kau kirimkan kepadaku. Betepa lega aku bila mengetahui itu. Sungguh benar-benar aku takut, akan kehilangan rasamu yang selama ini kau percayakan kepadaku.

Betapa kini aku harus belajar lagi dan lagi, akan betapa berharganya waktu. Terimakasih untuk sekian detik waktu yang selama ini telah diluangkan untukku..

You May Also Like

About the Author: juonjr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: